jump to navigation

Suatu Malam di Sebuah Pernikahan September 6, 2007

Posted by ghedesafti in cinta lagi.
trackback

Renar membuka pintu kamar tidurnya, pelan sekali. Ia melakukannya dengan sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara sekecil apapun dan membangunkan perempuan yang saat ini tertidur di sofa di ruang tamu. Setelah beberapa menit dia berhasil melakukannya. Renar berjinjit ke ruang tamu dan dirasakannya kelegaan mengguyur tubuhnya saat ditemukannya perempuan itu masih tertidur dengan pulasnya.

Renar berdiri di samping meja televisi, memandangi istrinya yang kini menggeliat lemah. Renar tercekat, menahan nafasnya. Ia tak mau istrinya terbangun dan menemukannya memandanginya saat tidur. Itu pernah terjadi minggu lalu, dan Renar harus berdalih ingin mengambil air karena haus. Tentu saja Lulu, istrinya, tak percaya. Dapur dan ruang tamu mereka letaknya berjauhan, ruang tamu di bagian depan dan dapur di bagian belakang rumah.

Tapi kali ini ternyata Lulu tak terbangun. Ia hanya menggeliat sebentar lalu pulas lagi. Renar kembali disiram kelegaan. Kali ini ia lebih berhati-hati dan mengatur nafasnya. Tak melakukan gerakan sekecil apapun selama memandangi Lulu tidur.

Kegiatan memandangi Lulu tidur ini sudah dilakukannya hampir sebulan penuh. Sempat terhenti beberapa hari setelah Lulu memergokinya minggu lalu, tapi justru sejak itu Renar makin penasaran. Dan ia melakukannya setiap malam sekarang. Sejak saat itu pula Renar menghabiskan waktu lebih lama untuk kegiatan ini. Ia pernah duduk di lantai semalaman memandangi Lulu sampai sinar matahari mulai merambati jendela ruang tamu mereka.

Kali ini ia berniat melakukannya selama yang ia bisa. Dengan sangat perlahan ia berhasil berpindah dari posisi berdiri ke duduk bersila di lantai ruang tamu yang dingin. Ia bersandar ke dinding. Dan mulai menikmati pemandangan di depannya.

Ruang tamu mereka begitu terang. Semua lampu dinyalakan. Lampu gantung, lampu duduk sampai lampu lukisan pun menyala. Lulu memang takut gelap, tapi Renar selalu berpikir keterlaluan kalau sampai harus menyalakan lampu lukisan segala. Tapi dia berhenti protes sejak lama, sejak dia mensyukuri betapa terangnya ruangan itu, sehingga dia bisa puas memandangi Lulu.

Lulu malam ini memakai daster pendek putih polos. Selimutnya sudah tertarik sampai di bawah lututnya. Renar agak takut Lulu kedinginan karena angin bisa masuk lewat lubang ventilasi di atas jendela. Tapi Lulu selalu berkeringat ketika tidur, dan malah seringkali menggerutu apabila Renar menyelimutinya. Maka malam ini Renar tak terlalu khawatir. Lagipula malam ini tak sedingin biasanya.

Lulu menggeliat lagi. Seketika tubuh Renar menegang. Ruangan ini begitu terang dan Lulu pasti akan bisa menangkapnya basah-basah seandainya ia terbangun. Dan Renar masih belum bisa memikirkan alasan apapun yang lebih masuk akal selain haus, dan alasan itu sudah terbukti sangat bodoh.

Tapi Lulu tak terbangun. Ia hanya membalikkan badannya dan kali ini memunggungi Renar. Renar merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Daster Lulu tersingkap sedikit dan kini memperlihatkan pahanya. Meskipun bukan ini tujuan awal Renar, tapi dia tak bisa membantah nafsunya yang mulai tumbuh.
‘Tenang, Ren,’ pikirnya, ‘control yourself‘. Sesaat kemudian Renar mengutuki pikirannya. Kenapa harus merasa bersalah kalau nafsu dengan istri sendiri?

Tapi Renar memang merasa bersalah. Dia tak bisa membantahnya. Renar mengalihkan pandangannya dari paha Lulu. Mencari sesuatu yang lain untuk dipandangi. Pandangannya beralih ke rambut Lulu. Renar selalu menyukai rambut Lulu yang hitam panjang. Wanginya selalu enak dan setiap kali mereka bercinta, Renar membenamkan wajahnya disana dan larut oleh wangi itu.

Belum lama ini Lulu pernah ingin memotong pendek rambutnya. Renar tentu saja mati-matian melarang. Mereka sempat bertengkar kecil tentang Renar tidak seharusnya mengatur penampilan Lulu dan Lulu mulai mengeluarkan sisi feminisnya dan mereka mulai berdebat tentang kesetaraan gender dan sebagainya itu. Pertengkaran itu seperti biasanya berlalu begitu saja ketika hari mulai malam dan mereka harus pergi tidur. Setelah pagi datang mereka tak pernah membicarakannya lagi. Dan Lulu tak pernah memotong rambutnya.

Pandangan Renar kini beralih ke lengan Lulu. Lengan Lulu tidak lebih putih dari lengannya. Padahal Renar, meski tak pernah mengakuinya, lebih senang seandainya kulit Lulu sedikit lebih putih. Tak perlu seputih Bunga Citra Lestari di iklan itu, tapi sedikit saja lebih putih dari kulit Lulu sekarang.

Renar ingat, masalah kulit putih itupun pernah mereka pertengkarkan. Di meja rias Lulu tak satupun kosmetik yang ada embel-embel whitening-nya. Renar pernah setengah bercanda memprotes hal itu. Entah kenapa, saat itu Lulu langsung naik pitam. Renar bisa melihat dengan jelas bahwa Lulu emosi, tapi sepertinya Lulu berusaha keras menahannya. Renar berusaha menjelaskan dengan baik-baik maksudnya, bahwa kulit yang sedikit saja lebih putih akan lebih enak dilihat. Tidak ada salahnya kan memperbaiki penampilan? Argumennya waktu itu. Tapi Lulu misuh-misuh, dan tak mengajaknya bicara selama seminggu penuh.

Sampai pada akhir minggu, Renar melihatnya: whitening body lotion di atas meja rias Lulu. Lulu dengan singkat mengatakan dia membelinya karena itu sedang didiskon. Waktu itu Renar merasa menang, tapi dia baru ingat, sejak hari Lulu membelinya, Renar tak pernah sekalipun melihat Lulu memakai body lotion itu. Dan lengan Lulu tak pernah berubah lebih putih seperti harapannya.

Renar menekuri lengan itu. Meskipun tak terlalu putih, tapi lengan Lulu lembut dan berbau enak. Lulu biasa merangkul lehernya dan Renar selalu menikmati mengendus-endus lengannya. Lulu selalu tertawa kegelian setiap kali Renar melakukannya. Ah, sudah lama sekali sejak ia terakhir kali melakukannya.

Sebenarnya, sudah lama sekali sejak Renar melakukan apapun dengan Lulu. Mereka berhenti melakukan ritual cium kening saat berpisah di depan kantor Lulu. Mereka berhenti menonton dan mencela-cela sinetron bersama selepas makan malam. Mereka berhenti bercinta. Mereka berhenti tidur seranjang. Mereka berhenti berbicara.

Semua berawal dua bulan lalu, ketika Lulu memutuskan mengambil selimut dari lemari dan membawa bantalnya ke sofa. Meninggalkan Renar tidur sendirian di kamar tidur mereka. Saat itulah semua mimpi buruk itu dimulai. Setiap malam Renar terbangun dan merasa kasurnya terlalu besar, dan ia merindukan memeluk Lulu dari belakang. Dua minggu penuh, dan Renar tak tahan. Matanya selalu nyalang di tengah malam, menginginkan Lulu kembali ke tempat tidur, menginginkan semua kembali seperti sebelumnya.

Maka di minggu ketiga Renar bangkit dari tempat tidurnya. Dia bertekad mengakhiri mimpi buruk itu. Setengah bergegas Renar membuka pintu kamar dan sesaat setelahnya mendapati gerakan Lulu yang terbangun dari tidurnya. Saat itu pula tekadnya luntur dan egonya menguasai. Dia benci minta maaf. Lagipula dia tak merasa punya salah, jadi bukan dia yang seharusnya datang memohon-mohon agar keadaan kembali seperti sebelumnya. Akhirnya ia hanya melangkah ke dapur dan mengambil minum. Dan itu terjadi setiap malam selama dua minggu berikutnya.

Sebulan yang lalu adalah puncaknya. Ketika Renar benar-benar tak tahan tidur sendirian. Dia memutuskan caranya yang selama ini tak akan pernah berhasil. Maka dia mencoba cara lain; pergi ke ruang tamu tanpa suara, duduk disana dan memandangi Lulu tidur. Cara ini cukup memuaskannya. Dia hanya duduk selama beberapa jam dan memandangi Lulu dan memuaskan kerinduannya, lalu kembali ke kamarnya dan pergi tidur selama beberapa jam.

Tapi akhir-akhir ini porsinya bertambah; bukan lagi beberapa jam, tapi kini Renar bisa duduk berjam-jam di lantai ruang tamu. Ada saja yang bisa ia nikmati dari memandangi Lulu. Dan setiap kali juga, kenangan masa-masa manisnya bersama Lulu selalu datang. Begitulah caranya menghilangkan rindunya akan Lulu. Ironis, pikirnya. Padahal Lulu ada begitu dekat dengannya. Tapi Renar begitu merindukannya.

Renar tahu dia membohongi dirinya sendiri. Tentu saja ini tak dimulai sejak dua bulan lalu ketika Lulu keluar dari kamar tidur mereka. Tidak, Renar tahu ini sudah dimulai berbulan lalu. Semua pertengkaran kecil itulah pemicunya. Dan Renar bahkan juga sadar selama ini ia selalu mendorong Lulu sampai batasnya. Dia bisa merasakan Lulu kesal pada dirinya. Tapi Renar terus mendorongnya, seakan ingin membuktikan Lulu tak akan pernah bisa marah dan pergi dan akan selalu memaafkannya, selalu memakluminya.

Sampai akhirnya Lulu benar-benar pergi. Meninggalkan Renar tidur sendiri. Tadinya Renar pikir itu bukan masalah besar. Tapi akhirnya dia tak bisa membantah bahwa terbangun setiap tengah malam dan menginginkan Lulu adalah memang masalah besar dalam hidupnya.

Renar tahu dia sebaiknya menyuruh egonya untuk ke neraka saja, dan mencium kening Lulu dan mengatakan maaf. Renar tahu hanya itu satu-satunya cara mengembalikan Lulu ke atas tempat tidurnya. Dia menghela nafasnya panjang. Diliriknya jam dinding, sudah hampir pukul dua. Ditundukkan kepalanya, wajahnya terkubur dalam telapaknya. Otaknya sibuk mengulang-ulang kata-kata yang sudah beberapa hari dilatihnya. Bibirnya bergerak tanpa suara. Kali ini dia bertekad, benar-benar bertekad, mengakhiri semuanya. Meminta maaf dan mengirim egonya ke neraka selamanya.

Perlahan Renar berdiri. Kata-kata yang dilatihnya berdengung di telinganya. Dia sudah siap. Dia meyakinkan dirinya bahwa dia sudah siap. Renar melangkah perlahan menuju sofa.

Lulu menggeliat. Kali ini sepertinya dia benar-benar terbangun. Dia membalikkan badan dan membuka matanya. Langkah Renar terhenti seketika. Ada sedikit keraguan mengancam tekadnya, tapi segera ditepisnya. Renar mengambil selangkah lagi mendekati sofa. Kini Lulu sudah benar-benar terbangun dan mengerutkan keningnya.

“Renar. Ada apa?” Lulu bangkit dan bertanya.

Renar mengulang sekali lagi kata-kata yang sudah dilatihnya. Dan mengambil selangkah lagi mendekati sofa.

“Renar? Kamu kenapa?” Lulu bertanya lagi.

Ini giliran Renar berbicara. Dia bisa merasakan egonya berlari kembali dari neraka. Dia tak ingin kalah disini. Namun semua kata-kata yang sudah berhari-hari dilatihnya mendadak hilang dari kepalanya. Jantungnya berdetak keras ditelinganya, dan keringat mengalir di sela rambutnya. Dia bisa merasakan egonya sudah begitu dekat dan hampir menguasai dirinya. Otaknya kosong dan dia tak bisa berpikir apapun. Dalam ketergesaan, akhirnya Renar hanya bisa mengatakan dengan tegang,
“Lu. Tidur di kamar yuk.”

Renar tercekat. Hilang sudah kesempatannya. Itu bahkan bukan permintaan maaf. Itu lebih terdengar seperti permintaan yang egois dan tanpa perasaan. Lulu pasti akan langsung mengusirnya, sudah untung kalau dia tidak melemparnya dengan vas bunga.

Renar ingin memperbaiki kata-katanya. Tapi egonya kini sudah berhasil kembali menguasainya. Dan Renar hanya bisa diam dengan tegang, menunggu vas bunga melayang ke kepalanya.

Sejurus kemudian Renar ternganga, tak mempercayai penglihatannya. Lulu sudah bangkit dari sofanya dan memeluk bantalnya, dan kini berjalan kearahnya. Mungkin bukan vas bunga, pikirnya. Mungkin Lulu cuma akan memukulinya dengan bantal.

Tapi Lulu tidak memukulinya. Lulu berdiri di hadapannya memeluk bantal. Kepalanya menunduk, tapi matanya mengawasi Renar. Lalu Lulu berkata pelan,
“ayo.”

***

Mereka bercinta malam itu. Sambil terengah Lulu memberi tahunya, bahwa ia tahu Renar duduk di lantai ruang tamu setiap malam dan memandanginya, dan bahwa itu cukup sebagai permintaan maaf untuk Lulu. Dan ketika sekali lagi wajahnya terbenam di rambut Lulu, Renar berjanji suatu waktu akan benar-benar mengirim egonya ke neraka untuk selamanya.

Komentar»

1. windry - September 8, 2007

I wonder … apa yang akan terjadi jika cerita ini memakai sudut pandang pertama? (di tengah inkonsentrasi mengedit novel … ah, ini yang bikin novelku ngga jadi jadi … blog travelling hahahaha)

2. Heidy - Oktober 17, 2008

hwaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh.

baru baca, bu.
so sweet…n down to earth..hahhaha ga nyambung yah?