Kau Perempuan September 18, 2007
Posted by ghedesafti in cinta lagi.trackback
Yang aku suka darimu adalah
Kau tak pernah bertanya. Kau hanya tersenyum dan menikmati. Begitu manis, begitu mudah bersamamu. Kau tak memberikan tambahan beban bagi hidupku. Kau seakan mengerti aku tak membutuhkan seorang perempuan yang merengek dan menuntut.
“Ayo pergi ke tempat yang jauh. Berdua saja. Tempat yang berpantai dan kita bisa main ombak sepuasnya.” Katamu suatu waktu.
Aku tahu, seperti halnya kau tahu, bahwa itu tak mungkin terjadi. Istriku akan langsung menciumnya, dan tentu saja aku tak ingin itu terjadi. Maka kuusap rambutmu dan aku tersenyum. Kalau aku tersenyum seperti ini, kau pasti sudah tahu apa artinya, kan?
Kau balas tersenyum. Itu dia senyum yang kusuka. Lalu katamu,
“Sudahlah. Ayo makan siang saja.”
***
Yang aku suka darimu adalah
Kau tak pernah menangis. Tak pernah basah bercucuran air mata. Seakan emosi hanya memiliki porsi sangat sedikit dalam tubuhmu, pun kalau ada. Kau tak pernah menggunakan tangisan sebagai senjata. Mungkin kau tahu, itu tak lagi mempan untukku.
“Tunggu. Tunggu.”
Kau terengah. Tanganmu menahan gerakku. Mau tak mau aku berhenti. Dalam keremangan kamar kulihat kau memandangku. Lalu telapakmu mengusap wajahku.
“Kenapa?” Tanyaku.
Kau memandangku dan tersenyum. Lalu katamu,
“Sekali ini, kita lakukan pelan-pelan saja ya. Benar-benar pelan, seperti yang kita lihat di film waktu itu.”
Otakku berputar, mengingat-ingat. Oh ya, film seri yang kemarin itu. Tapi di film itu kan, perempuannya sedang hamil, jadi wajar kalau mereka melakukannya pelan-pelan. Tapi baiklah, daripada tidak sama sekali.
Aku mulai bergerak perlahan, sepelan yang dimungkinkan oleh nafsuku yang memuncak. Tapi kalau sepelan ini aku tak akan pernah sampai. Kupacu lagi gerakku.
“Sayang. Jangan cepat-cepat. Pelan-pelan saja…” Kau berusaha menahan gerakku lagi.
Aku sedang tinggi sekali. Tak bisa berhenti. Maka kutahan tanganmu dan kubisikkan di telingamu,
“ssshhh…”
***
Yang aku suka darimu adalah
Kau tak pernah merasa sakit. Tak pernah kulihat rasa sakit di matamu. Kalaupun kau pernah tersakiti, maka berarti kau pandai menyembunyikannya. Dan aku suka kau menyembunyikannya. Ya, hidupku sudah terlalu berat tanpa harus direpotkan oleh rasa bersalah. Kau tahu itu kan, sayang?
“Sayang. Lihat apa?”
Aku tersentak. Kembali dari lamunanku. Kulihat kau mengikuti arah pandangku. Aku mencoba mengalihkan perhatianmu dengan menunjukkan anting berlian di etalase kaca. Tapi rupanya kau sudah mengetahui apa yang dari tadi kupandangi, karena kurasakan tanganmu mencubit mesra pinggangku.
“Dasar fedofil,” katamu menggodaku, “mereka masih SMA, tahu.”
Aku meringis. Kau memandangku dan ikut tersenyum kecil. Lalu kau kembali sibuk memperhatikan perhiasan-perhiasan yang dipajang di etalase. Aku tentu saja tak tertarik dengan berlian, maka kualihkan lagi pandanganku, menikmati kepolosan kaki-kaki jenjang berbalut rok abu-abu. Mereka berempat. Salah satunya bisa berlutut di depanku, yang satu lagi di belakang, yang satu…
“Hei. Would you stop it already?” Kau memukul perutku pelan.
Aku meringis. Kau memandangku, kali ini tanpa senyum. Bibirmu mengerucut dan dahimu berkerut. Aku tahu kau hanya pura-pura merajuk. Maka kukecup lembut keningmu. Aku tahu kau suka itu. Kau selalu suka kecupan-kecupanku. Dan mereka selalu berhasil membuatmu tersenyum, seperti sekarang ini.
***
Yang aku suka darimu adalah
Kau tak perlu jatuh cinta. Jatuh cinta hanya akan membuat susah. Kita setuju dengan itu kan, sayang? Jatuh cinta hanya akan membuat semuanya berubah. Dengan cinta kita tak akan bisa seperti ini. Dengan cinta, kau bukan lagi seseorang untuk disukai. Kau akan sama seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kukencani, kau akan sama dengan istriku; merajuk, menuntut, menangis, dan menyalahkan cinta atas segala yang kau lakukan. Kau tak perlu cinta. Kita tak perlu cinta.
“Aku butuh cinta.”
Satu tahun dan kau berubah.
“Jangan,” kataku, “kau tahu…”
“Aku sangat tahu,” kau memotong perkataanku, “tapi ini sudah telanjur. Aku jatuh cinta padamu.”
Kau benar-benar berubah. Bahkan kulihat ada yang mulai menggenang di matamu.
“Ada apa dengan ‘nikmati saja semuanya’? Bukankah kau selalu bilang kau hanya bersenang-senang? Aku suka dirimu yang seperti itu!” Aku mulai frustasi, sayang. Kau tahu aku tak suka dibuat frustasi.
Aku terduduk disampingmu, di sofa di kamar hotel kita. Kau sandarkan kepalamu di bahuku. Matamu menerawang, kau diam lama. Sampai akhirnya kau berkata,
“kau menyukai orang yang salah.”
“Kalau begitu ini perpisahan.” Kataku pelan.
“Ya,” katamu, “aku masih perempuan. Aku masih butuh cinta.”
Kau berdiri dan mengambil tasmu. Lalu keluar dari kamar itu. Meninggalkanku yang mulai terbiasa, memilih bebas tanpa cinta.
Komentar»
No comments yet — be the first.