Eden September 23, 2007
Posted by ghedesafti in cinta lagi.trackback
Kekasihku bernama Eden. Dia seorang perempuan yang cantik dengan mata bersinar dan senyum yang senantiasa. Dia juga pintar. Aku menikmati mengobrol dengannya yang berwawasan luas. Aku menikmati pemikirannya yang maju. Aku menikmati tawanya yang terdengar enak di telinga.
Eden adalah inspirasiku.
Kami bertemu hampir setahun lalu di sebuah pameran lukisan di Bali. Kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Atau, setidaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Kami melanjutkan perkenalan dengan menghabiskan malam mengobrol panjang ditemani cangkir-cangkir kopi di sebuah kafe kecil di Petitenget. Aku ingat bagaimana aku dibuat semakin jatuh cinta oleh pemikiran-pemikirannya yang kadang ajaib, tapi juga cerdas. Dan senyumnya, ya Tuhan, senyumnya… begitu manis dan tulus, mampu membuatku yakin bahwa dunia adalah satu tempat yang begitu damai.
Eden adalah gerimisku.
Aku selalu bisa menemukan damai ketika bersamanya. Sentuhnya di pipiku begitu teduh. Dia bisa dengan mudahnya mengusir penat dan lelah. Aku begitu bersyukur atas kehadirannya dalam hidupku.
***
“Sudah hampir satu tahun.” Eden berkata malam itu.
Dia duduk di sofa ruang tamu di rumahku. Aku menghampirinya.
“Iya. Sudah lama juga ya?” Jariku memainkan rambutnya yang ikal.
Dia tertawa kecil, lalu menepis pelan tanganku. Eden selalu kegelian setiap kali aku memainkan rambutnya, dan itu selalu membuatku gemas dan malah semakin ganas membelai-belai rambut ikalnya. Tapi kali ini Eden menarik tanganku ke pipinya.
“Kita mau sampai kapan?” Dia bertanya sambil mengelus pelan punggung tanganku.
“Sampai bosan,” kataku, “sampai eneg. Sampai kita muntah kalau melihat satu sama lain.”
Dia tertawa. Sebentar, lalu wajahnya murung lagi.
“Kamu tahu hubungan kita tak punya masa depan…”
Ya, tentu saja aku tahu, sayang.
***
Eden adalah matahariku.
Eden adalah hari-hariku. Dia yang membuatku bergerak, melangkah dan berpacu. Aku tak ingat kehidupanku sebelum dia hadir di sisiku. Seakan aku baru mulai hidup ketika Eden ada di sampingku, ketika Eden mencintaiku. Ketika aku mencintainya.
Eden adalah duniaku.
Bagaimana aku hidup dan bangun setiap pagi tanpamu?
***
“Sudah hampir dua tahun.”
Satu tahun berlalu sejak percakapan malam itu, tanpa sekalipun kami pernah membicarakannya lagi.
Tapi malam ini Eden mengatakannya.
Aku cuma tersenyum sedikit. Berharap itu cukup untuk menyudahi pembicaraan yang ribuan kali kuhindari.
“Aku sudah 29. Kamu hampir 27.” Dia membeberkan fakta.
Kepalaku serasa mau meledak. Aku tahu kami semakin tua, tapi lalu kenapa? Aku tahu itu bukan masalah baginya seperti itu bukan masalah bagiku. Aku tahu dia cuma mencari-cari alasan lain untuk menyudahi hubungan ini. Apa dia tak bisa melihat bahwa itu menyakitiku?
Ah. Mungkin kami terlalu terbiasa dengan rasa sakit. Mungkin kami terlalu terbiasa untuk tak bermimpi.
Dia bangkit dari sofaku, lalu berkata, “kamu tahu hubungan ini tak punya masa depan…”
Ya, aku tahu. Aku sudah tahu dari dulu, sayang.
***
Kekasihku bernama David. Dia laki-laki. Dan itu cukup buatku.
***
Aku memperhatikannya mengepaki kopernya dengan mata basah. Rambut ikalnya bergoyang liar ketika dia memaksa masuk seluruh pakaiannya kedalam koper hitamnya.
Eden hanya diam tanpa sepatah kata pun terucap sejak aku memberitahunya tentang David. Hanya tubuhnya yang bergetar. Dan tangisnya yang seakan tak akan pernah berhenti.
Aku duduk di tepi tempat tidur, menahan tangisku sendiri.
Eden menyeret kopernya keluar kamar. Aku mengikutinya. Tubuhnya masih bergetar hebat. Aku tak tahan lagi. Aku frustasi pada sikapnya yang seakan menyalahkanku. Padahal kami tahu ini seharusnya berakhir sejak dulu, bahkan sejak sebelum pernah dimulai. Padahal aku mengambil bagian terberat agar dia tak perlu melakukannya.
“kamu tahu kita tak punya masa depan, Eden…” Kataku pelan.
Dia menatapku dengan mata sembab, dan mengangguk dalam.
“Aku tahu,” bisiknya, “tapi tetap saja ini menyakitkan.”
Aku tak tahan untuk tidak menciumnya, maka kulakukan. Dia membalas pelan. Satu ciuman terakhir, lalu aku memeluknya erat.
Eden berbisik, “kamu perempuan paling istimewa yang pernah kukenal, Rea. Aku begitu mencintaimu”
Aku bisa merasakan airmataku mulai mengalir.Kupeluk Eden lebih kencang dan kubisikkan di telinganya,
“Eden, kamu adalah surgaku.”
Kami berpisah malam itu.
Not Bad…Suasananya buat gua bener bener dapet.
visit me
Bagus,ghe! Btw, kok blog gw blm ada di blogroll lo,gheeee…?